Di
suatu hutan yang rindang nan indah, hiduplah seekor burung kecil yang menawan.
Burung tersebut bernama Pipit. Sayapnya berkilauan, paruhnya melengkung runcing
dan gerakannya sangat lincah membuat Pipit dikagumi oleh penduduk hutan
tersebut. Namun, dibalik kecantikannya terdapat sifat angkuh dan suka memilih-milih
teman. Suatu ketika Pipit sedang bertengger cantik di dahan pohon, lalu
datanglah Kerbau menyapa, “Selamat pagi Pipit, maukah engkau bermain
denganku?”, tawar Kerbau. Tidak diduga jawaban yang keluar dari mulut Pipit
sangat menyakiti hati Kerbau. “Hai Kerbau, sadarlah! Kau ini buruk rupa, tak
pantas kau berteman denganku”, jawab Pipit merendahkan. Kerbau hanya bisa
menunduk sedih tanpa berkata lagi.
Takselang
berapa lama Elang datang dengan maksud yang sama, yaitu mengajak Pipit bermain,
“Bisakah kau menemaniku terbang gadis cantik”, ajak Elang dengan gagah. Tanpa
menjawab Pipit langsung mengganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
“Sudahlah
Kerbau, jangan sedih. Masih banyak teman yang lain”, hibur Monyet yang saat itu
ada di samping Kerbau. Kerbau hanya tersenyum kecut menyadari Pipit tidak mau
berteman dengannya. Namun hal itu tidak menjadikan Kerbau membenci Pipit, malah
Kerbau bertekad untuk mengubah perilaku Pipit.
Musim
hujan sudah datang. Langit kerap kali mendung dengan cepat dan nampak kelam.
Suasana menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Hingga suatu hari rintik
hujan turun dengan lebat,hewan-hewan yang ada di hutan tersebut lari tungganglanggang
mencari tempat berteduh dari derasnya air hujan. Tanah disekitar juga menjadi becek
dan dahan pohon menjadi licin.
Berbeda
dengan teman-temannya yang mencari perlindungan dan berteduh. Pipit malah
dengan sengaja hinggap ke dahan pohon dan melakukan gerakan-gerakan lincah,
tidak peduli bahwa dahan itu licin. Berulang kali teman-teman yang lain
mengingatkan agar Pipit segera turun karena dahan itu tidak aman. Namun dasar
watak Pipit yang tidak mau dinasehati, ia malah berusaha naik ke dahan yang
lebih tinggi,
“Aduh bagaimana ini monyet? Pipit sangat keras
kepala sekali”,keluh Kerbau kepada Monyet menyaksikan Pipit yang terus bergerak
lincah. Monyet tidak berkomentar, ia malah sibuk menggeleng-gelengkan kepala.
Belum sempat Kerbau berkata lagi. Teriakan Pipit
terdengar sangat keras
“Ohhh... tidaaaakkkkkkkkkkk
tolonggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Ternyata
ketakutan Kerbau terjadi. Kaki Pipit menginjak dahan yang begitu licin, membuat
kaki Pipit terpeleset,akibatnya Pipit hampir terjatuh dari ketinggian..
Sayapnya tidak bisa berfungsi dengan baik karena Pipit kalut dikuasi rasa panik
Dan
jatuhlan Pipit ke bawah, Pipit sudah menyangka bahwa ia akan terjatuh ke tanah
yang becek, ternyata dugaan Pipit salah. Pipit jatuh tepat diatas kotoran Kerbau.
Menyadarinya itu, Pipit langsung teriak marah. “Hai Kerbau! Mengapa engkau
buang kotoran disini, aku menjadi kotor karenanya”, sungut Pipit tidak terima.
“Wahai Pipit, seharusnya engkau berterimakasih kepada Kerbau, berkat kotorannya
kau jatuh dengan aman, tidak menimbulkan luka bagimu dan kau jatuh dengan selamat”,sungut
Monyet membela Kerbau.
Diam-diam
perasaan bersalah menyelinap di hati Pipit. Benar kata Monyet, seharusnya ia
berterimakasih kepada Kerbau, berkat kotorannya dia tidak terluka malah merasa
hangat di situasi hujan seperti ini. Namun belum sempat ia berterimakasih
kepada Kerbau, datanglah Elang dengan tatapan ingin memangsa, Dann Happppppp
Pipit diterkam oleh Elang. “Oh tidak jangan lakukan itu Elang”, cegah Kerbau
dan Monyet.
“Dari
awal aku memang ingin menjadikan Pipit yang sombong ini sebagai mangsaku. Dia terlalu
terpengaruh oleh kebaikanku, sehingga lupa dia dalam bahaya hahahaha”, Elang dengan
sigap mencengkeram tubuh Pipit dan membawanya terbang. “Tolongggg akuu
Kerbauuuuuuu”, jerit Pipit menangis. Kerbau dan Monyet hanya bisa menatap sedih
karena tidak bisa melakukan apapun untuk menyelematkan Pipit. Kerbau dan Monyet
hanya berharap jika mereka bisa dipertemukan lagi dengan Pipit dan mengubah
perilakunya menjadi lebih baik lagi.
Pesan Moral:
Jangan memilih teman dari sampulnya apalagi menilainya. Apa yang kita rasa baik
belum tentu baik, dan apa yang kita rasa buruk belum tentu buruk. Lebih teliti
dan bersikap baik terhadap sesama. Dan yang lebih penting selalu minta maaf atas kesalahan sebelum terlambat.







wooooooooy
BalasHapus