src="http://kikiefendiclock.googlecode.com/files/www.kikiyo.co.cc.cursor-bintang-silver.js" type="text/javascript">

Kamis, 27 Desember 2018

CONTOH SASTRA ANAK "KEAJAIBAN KOTORAN KERBAU"


KEAJAIBAN KOTORAN KERBAU

            Di suatu hutan yang rindang nan indah, hiduplah seekor burung kecil yang menawan. Burung tersebut bernama Pipit. Sayapnya berkilauan, paruhnya melengkung runcing dan gerakannya sangat lincah membuat Pipit dikagumi oleh penduduk hutan tersebut. Namun, dibalik kecantikannya terdapat sifat angkuh dan suka memilih-milih teman. Suatu ketika Pipit sedang bertengger cantik di dahan pohon, lalu datanglah Kerbau menyapa, “Selamat pagi Pipit, maukah engkau bermain denganku?”, tawar Kerbau. Tidak diduga jawaban yang keluar dari mulut Pipit sangat menyakiti hati Kerbau. “Hai Kerbau, sadarlah! Kau ini buruk rupa, tak pantas kau berteman denganku”, jawab Pipit merendahkan. Kerbau hanya bisa menunduk sedih tanpa berkata lagi.
            Takselang berapa lama Elang datang dengan maksud yang sama, yaitu mengajak Pipit bermain, “Bisakah kau menemaniku terbang gadis cantik”, ajak Elang dengan gagah. Tanpa menjawab Pipit langsung mengganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
            “Sudahlah Kerbau, jangan sedih. Masih banyak teman yang lain”, hibur Monyet yang saat itu ada di samping Kerbau. Kerbau hanya tersenyum kecut menyadari Pipit tidak mau berteman dengannya. Namun hal itu tidak menjadikan Kerbau membenci Pipit, malah Kerbau bertekad untuk mengubah perilaku Pipit.
            Musim hujan sudah datang. Langit kerap kali mendung dengan cepat dan nampak kelam. Suasana menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Hingga suatu hari rintik hujan turun dengan lebat,hewan-hewan yang ada di hutan tersebut lari tungganglanggang mencari tempat berteduh dari derasnya air hujan. Tanah disekitar juga menjadi becek dan dahan pohon menjadi licin.
            Berbeda dengan teman-temannya yang mencari perlindungan dan berteduh. Pipit malah dengan sengaja hinggap ke dahan pohon dan melakukan gerakan-gerakan lincah, tidak peduli bahwa dahan itu licin. Berulang kali teman-teman yang lain mengingatkan agar Pipit segera turun karena dahan itu tidak aman. Namun dasar watak Pipit yang tidak mau dinasehati, ia malah berusaha naik ke dahan yang lebih tinggi,
“Aduh bagaimana ini monyet? Pipit sangat keras kepala sekali”,keluh Kerbau kepada Monyet menyaksikan Pipit yang terus bergerak lincah. Monyet tidak berkomentar, ia malah sibuk menggeleng-gelengkan kepala.
Belum sempat Kerbau berkata lagi. Teriakan Pipit terdengar sangat keras
“Ohhh... tidaaaakkkkkkkkkkk tolonggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
            Ternyata ketakutan Kerbau terjadi. Kaki Pipit menginjak dahan yang begitu licin, membuat kaki Pipit terpeleset,akibatnya Pipit hampir terjatuh dari ketinggian.. Sayapnya tidak bisa berfungsi dengan baik karena Pipit kalut dikuasi rasa panik
            Dan jatuhlan Pipit ke bawah, Pipit sudah menyangka bahwa ia akan terjatuh ke tanah yang becek, ternyata dugaan Pipit salah. Pipit  jatuh tepat diatas kotoran Kerbau. Menyadarinya itu, Pipit langsung teriak marah. “Hai Kerbau! Mengapa engkau buang kotoran disini, aku menjadi kotor karenanya”, sungut Pipit tidak terima. “Wahai Pipit, seharusnya engkau berterimakasih kepada Kerbau, berkat kotorannya kau jatuh dengan aman, tidak menimbulkan luka bagimu dan kau jatuh dengan selamat”,sungut Monyet membela Kerbau.
            Diam-diam perasaan bersalah menyelinap di hati Pipit. Benar kata Monyet, seharusnya ia berterimakasih kepada Kerbau, berkat kotorannya dia tidak terluka malah merasa hangat di situasi hujan seperti ini. Namun belum sempat ia berterimakasih kepada Kerbau, datanglah Elang dengan tatapan ingin memangsa, Dann Happppppp Pipit diterkam oleh Elang. “Oh tidak jangan lakukan itu Elang”, cegah Kerbau dan Monyet.
            “Dari awal aku memang ingin menjadikan Pipit yang sombong ini sebagai mangsaku. Dia terlalu terpengaruh oleh kebaikanku, sehingga lupa dia dalam bahaya hahahaha”, Elang dengan sigap mencengkeram tubuh Pipit dan membawanya terbang. “Tolongggg akuu Kerbauuuuuuu”, jerit Pipit menangis. Kerbau dan Monyet hanya bisa menatap sedih karena tidak bisa melakukan apapun untuk menyelematkan Pipit. Kerbau dan Monyet hanya berharap jika mereka bisa dipertemukan lagi dengan Pipit dan mengubah perilakunya menjadi lebih baik lagi.
Pesan Moral: Jangan memilih teman dari sampulnya apalagi menilainya. Apa yang kita rasa baik belum tentu baik, dan apa yang kita rasa buruk belum tentu buruk. Lebih teliti dan bersikap baik terhadap sesama. Dan yang lebih penting selalu minta maaf atas kesalahan sebelum terlambat.

1 komentar: