Assalamualaikum wr.wb
Selamat pagi Bapak Riza serta
rekan-rekan PBSI semester 3 yang berbahagia
Marilah kita panjatkan rasa
syukur kita atas kehadirat Allah SWT yang melimpah rahmat, taufik serta
hidayahnya sehingga kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat pada pagi hari.
Teman-temanku yang berbahagia..
Saya berdiri sini akan
menyampaikan bagaimana situasi sosial tentang pendidikan di Pacitan saat ini..
Ketika kita melihat realita sekitar,
presentase anak untuk meneruskan ke jenjang perguruan tinggi itu lebih rendah
daripada anak yang meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dari
sinilah masalah muali muncul dan menghambat laju pembangunan. Pendidikan masih
tersandung kendala stagnasisasi (apa itu?) pembangunan di Pacitan.
Fenomena ini bukan tanpa alasan.
Alasan yang paling sering tersdengar adalah dari faktor keluarga atau faktor
orang tua. Mengapa? Kebanyakan orang tua melarang anaknya melanjutkan
pendidikan setelah SMA dikarenakan faktor biaya. Faktor biaya tersebut mungkin
alasan yang cukup logis mengingat mayoritas orang di Pacitan berprofesi sebagai
petani dan angka penghasilannya juga cukup rendah. Terutama untuk di daerah yang terpelosok, atau jauh dari
cangkupan kota. Cara berpikir orang tua masih sangat tradisonal yaitu mereka
berpikir bahwa pendidikan itu tidak terlalu penting dan malah menghabiskan uang
karena memang biaya pendidikan itu agak mahal, dan sebaliknya mereka orang tua
beranggapan bahwa lebih baik anak disuruh kerja untuk menghasilkan uang dan
membantu perekonomian keluarga.
Artinya faktor kesadaran orang tua
terhadap pendidikan itu tergolong rendah dan menimbulkan sikap prihatin. Hal
itu akan berdampak kepada masa depan anak. Anak akan tumbuh menjadi mohon maaf
bisa jadi pengangguran, Karena memasuki era milineal dan generasi digital
native maka pendidikan itu masuk perhitungan kualifikasi pekerjaan masa kini.
Imbasnya pemuda tersebut sebagian besar memutuskan untuk pergi merantau ke kota
besar kemudian bekerja sebagai buruh pabrik atau pekerjaan kasar lainnya kemudian
balik ke kampung dan menikah. Hal itu seperti siklus yang terdapat di Pacitan.
Hal ini yang perlu menjadi perhatian sekarang.
Sebenarnya hal itu juga bukan
sepenuhnya kesalahan dari masyarakat saja, tetapi analisa pola pendidikan di
Pacitan pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Hal yang perlu ditilik
lebih dalam yaitu terdapat pada metodologi pendidikan yang lemah dalam
membentuk generasi yang berkarakter. (apa itu?)
Pendidikan belum menyentuh
problematika rill atau masalah nyata dalam masyaraka. Pendidikan masih terpaku
pada teoritis dan mengabaikan masalah yang ada di lapangan. Padahal sebenernya
yang dibutuhkan masyarakat adalah tata nilai dari proses pendidikan yaitu membentuk karakter kepemimpinan, membentuk
kapasitas diri, mencipta konsep diri yang visioner atau berpandangan jauh di
masa depan.
Faktor penghambat laju dari
pembangunan yaitu pendidikan yang masih menggunakan metode pembelajaran yang
bersifat konvesional atau tradisioanl, tidak mengggunakan kultural daerah
sehingga output siswa kurang berkualitas. Hal ini tentunya berimbas pada pola
perilaku anak anak Pacitan. Terdapat sejumlah kasus yang menyandung pendiidkan
Pacitan misalnya kasus pornografi, kekerasan dan lain-lain
Tentu
hal ini harus menjadi tanggung jawab kita semua, baik kita selaku pelajar,
calon pendidik, calon orang tua dan masyarakat. Karena generasi yang seperti
itu akan menjadi boomerang bagi negara kita. Mau dibawa kemana negara kita
apabila generasinya saja sudah seperti itu?
Melihat beberapa faktor hal yang
membuat pendiidkan di Pacitan merasa prihatin maka sebagai masyarakat pacitan
harus bekerja sama. Karena permasalahan ini tidak bisa dituntaskan dengan
sendirian. KITA ITU SATU BUKA SATU SATU.
PERLU
PARADIGMA DALAM KONTEKS REFORMULASI POLA PENDIDIKAN







0 komentar:
Posting Komentar