src="http://kikiefendiclock.googlecode.com/files/www.kikiyo.co.cc.cursor-bintang-silver.js" type="text/javascript">

Kamis, 17 Januari 2019

RESUME MATERI SEMIOTIKA LENGKAP


SEMIOTIKA


ASAL SEMIOTIKA
            Semiotika merupakan ilmu tentang sistem tanda, seperti yang dikatakan Segers atau Cobley dan Jansz sebenarnya bukan bidang yang kemunculannya datang tiba-tiba melainkan sudah mmenjadi perdebatan antara penganut mahzab Stoik dan kaum Epikurean di Athena. Kira-kira isi perdebatan mereka berkaitan dengan perbedaan anatar “tanda  natural (alami)” dan tanda konvesional (dibuat khusu untuk  komunikasi).
SEMOTIKA DI INDONESIA?
Di Indonesia penggunaan semiotika sebagai bidang ilmu, pendekatan dan metodologi di kalangan akademisi atau pun mahasiswa Progam Studi Ilmu Komunikasi, dimulai awal sembilan puluhan oleh mahasiswa Fisip Komunikasi Universitas Indonesia. Mereka mendapatkannya dari keompok belajar yang mereka bentuk atau bisa dikatakan mereka mendapatkan semiotika secara otodidak.Akhir tahun 1992 Lingkaran Peminat Semiotika yang dibentuk di Jakarta telah menyelenggarakan pertemuan sekitar soal semiotika. Penerapan semiotika kini tak hanya digeluti oleh mahasiswa tak terkecuali dari studi ilmu komunikasi. Hingga sekarang semiotika mendapat perhatian yang begitu besar dan terus berkembang.
SEMIOTIKA?
Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda Semiotika dalam Barthes, semiologi, pada dasarnya mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things)1. Selain itu tanda merupakan sesuatu yang terdiri dari pada sesuatu yang lain atau menambah dimensi yang berbeda pada sesuatu, dengan memakai apa pun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu hal lainnya. Tanda-tanda memiliki valiensi ganda dan dapat menyesatkan atau menipu dalam tambahan pemberian kebenaran dari tanda-tanda tersebut. Hal ini menjadi kekuatan dan menjadikan tanda-tanda tersebut sebagai gejala yang kompleks serta harus dipertimbangkan.2
BAGAIMANA TANDA-TANDA BEKERJA?
Pendekatan Saussure
Pendekatan Pierce
Ø Tanda-tanda disusun oleh dua elamen yaitu aspek citra tentang bunyi (representasi visual) dan suatu konsep tempat citra bunyi itu disandarkan
Ø Hubungan antar penanda dan petanda bersifat arbither (bebas). Artinya keberadaan sesuatu atau sesuatu aturan tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan yang logis
Ø Prinsip kearbitreran bahasa tidak dapat diberlakukan secara sepenuhnya. Ada tanda-tanda yang bersifat arbither ada juga yang hanya relatif.
Ø     misalnya simbol keadilan yang berupa keadilan tidak dapat digantikan oleh kendaraan (kereta)

Ø  Tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaanya memiliki hubungan kausal dengan tanda-tanda tersebut.
Ø  Pierce menggunakan istilah ikon untuk kesamaanya, indeks untuk hubungan sebab akibat, dan simnbol untuk asosiasi konvesional.

Catatan:
Untuk memperjelas pendekatan yang dikemukakan oleh Pierce, berikut tabel ikon, indeks dan simbol
TANDA
IKON
INDEKS
SIMBOL
Ditandai dengan:


Contoh:



Proses
Persamaaan (kesamaan)

Gambar-gambar
Patung-patung tokoh besar Reagen

Dapat dilihat
Hubungan sebab akibat

Asap/api
Gejala/penyakit
(Bercak merah/campak)
Dpaat diperkirakan
Konvensi


Kata-kata Isyarat



Harus dipelajari
                                               
TOKOH SEMIOTIKA
Pragmastisme Charles Sanders Peirce
Perice merupakan seorang pemikir yang argumentatif, dibalik itu Pierce merupakan seorang yang sangat tempramental. Menurut Lechte (dalam Alex Sobur, 2010:40) Pierce terkenal karena teori tandanya.
Pierce mengadakan klasifikasi tanda dengan dikaitkan dengan ground menjadi 3 macam yaitu:
v  Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kasar, lemah, lembut dan merdu
v  Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda ; misalnya kata kabur dan keruh menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai
v  Legisign adalah norma yang dikandung dalam tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidsk boleh dilakukan
Teori Tanda Ferdinand de Saussure
Sasussure merupakan layak yang dikenal sebagai pendiri linguistik modern, dialah sarjana dan tokoh besar asal Swiss. Ada lima pandangan dari Saussure yang menjadi peletak dasari strukturalisme dari Levi-Strauss, yaitu (1) signifier (penanda) dan signfied (petanda);(2) form (bentuk) dan contenct (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan dan ajaran); (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik);serta (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik)

APLIKASI SEMIOTIKA KOMUNIKASI
Media
Media masa merupakan pencarian pesan dan makna . Mempelajari media adalah mempelajari makna dari mana asalnya
Komunikasi Periklanan
Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri dari lambang, baik dari verbal mapupun berupa ikon, Iklan juga merupakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televisi, dan film. Iklan juga terdiri dari iklan verbal dan non verbal
Film
Film sebagai media komunikasi massa yang kedua muncul di dunia. Dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat, hubungan antar film dan masyraakat selalu dipahami secara linier, artinya film mempengaruhi dan membenruuk masayrakata berdasarkan muatan pesan tanpa pernah berlaku sebaliknya. Film juga dibangun dengan tanda-tanda. Unsur terpenting dalam film adalah gambar dan suara.  Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digubakannya tanda-tanda ikonis
Komik-Kartun-Karikatur
Elemen pembentuk komik-kartun-karikatur yaitu terdri dari unsur-unsur berbagai disiplin misalnya bidang seni rupa, sastra, linguistik, dan sebagainya. Komik kartun penuh dengan perlambanga yang kaya akan makna. Sebagai kartun opini maka ada 4 hal teknis yang harus diingat yaitu: (informatif dan komunikatif, situasional dengan pengungkapan yang hangat, cukup memuat kandungan humor, serta komik harus memuat gambar yang baik)
Sastra
Karya sastra dengan keutuhannya secara semotik dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi. Pertama, karya sastra merupakan gelaja komunikasi yang berkaitan dengan pengarang, wujud dastra sebagai sistem tanda, pembaca. Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki strukur dalam tata tingkat tertentu. Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.
Musik
Denotatum musik merupakan tanggapan dan perasaan yang sangat kompleks dan sulit dilukiskan, namun Art van Zoest melihat ada 3 kemungkinan
·         Mengganggap unsur-unsur struktur musik sebagai ikonis bagi gejala neurofisiologis pendengar.
·         Mengganggap gejala-gejala struktural dalam musik debagai ikonis bagi gejala-gejala struktural dunia penghayatan yang dikenal
·         Mencari deotatum musik ke arah isi tanggapan dan perasaan yang dimuncukan musik lewat indeksial


BERKOMUNIKASI DENGAN SIMBOL
Secara etimologis simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu benda dikaitkan dengan ide. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta disebutkan simbol, atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu. Simbol juga menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Pada dasarnya simbol dapat dibedakan (Hartoko & Rahmanto, 1998:133)
1.      Simbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidue sebagai lambang kematian
2.      Simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu(misalnya keris dalam kebudayaan Jawa)
3.      Simbol individual yang biasanya d ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang

ASPEK-ASPEK VISUAL TANDA-TANDA
Penggunaan Warna
Perbedaan warna cenderung menimbulkan emosi.
Merah: nafsu, bahaya, panas, emosi
Biru: tenang, damai, halus
Violet: kejayaan dan kerajaan
Hitam: berduka cita
Ukuran
Tanda-tanda memiliki variasi ukuran, mulai dari ukran terkecil hingga terbesar. Perubahan skala ukuran lebih menekankan nilai keindahan daripada fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Ruang Lingkup
Hubungan antar unsur dalam sistem tanda yakni semacam periklanan. Berbagai tanda memiliki tampilan yang relatif sedikit dan ruang kontras dengan “ruang kosong”. Ruang kosong itu sendiri mencerminkan tentang keanggunan kualitas dan selera tinggi
Kontras
Kontras merupakan perbedaan antara elemen-elemen yang ada dalam suatu tanda, seperti warna, ukuran,ketajaman dan tekstur. Kegunaan kontras terdapat jelas dalam tanda lampu lalu lintas
Bentuk
Bentuk berperan penting untuk memunculkan arti di dalam iklan. Banyak dijumpai bentuk jantung pada Hari Valentine adalah simbol dan bukan ikon.
Detail
Detail juga merupakan suatu tanda dari sejumlah manfaat. Detail menyarakan kesepakatan ihwal letidaksempurnaan atau kecepatan


DAFTAR PUSTAKA
1.        Sobur, A. Semiotika Komunikasi. (2013).
2.        Berger, A. A. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. (2010).



















Celana 1
Joko Pinurbo
Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”
(1996)




Kajian Puisi Celana 1 Joko Pinurbo Menggunakan Teori Semiotika
Puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Celana 1” merupakan puisi dengan rangkaian kata sederhana namun penuh makna. Apabila membaca puisi tersebut, tampak kita seperti membaca cerita. Dari pelaku yang ada dalam cerita ingin membeli celana baru hingga pelaku tersebut mencari kuburan ibunya. Unikya dilansir dari www.whiteboardjournal.com Jopin mengemukakan bahawa puisi “Celana” sebetulnya terinspirasi dari alkitab, dari surat Paulus yang pada ayat tertentu megatakan, “lebuh penting mana tubuh atau pakaian”. Hal ini masih terasa ambigu untuk diterjemahkan oleh pembaca. Berikut penjelasannya:

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Diawali dengan kata “Ia” yang menunjukan bahwa pelaku dalam puisi tersebut ialah sosok lelaki. Dikuatkan penanda pada  bait ketiga yaitu tampan.
Kata “celana” pada bait pertama juga menarik, karena celana berhubungan dengan benda yang sering dipakai oleh manusia dan digunakan untuk menutupi aurat
Kata “pesta” menujukan pada kegiatan bersenang-senang, dan lebih mengutamakan urusan dunia


Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Pelaku dalam puisi tersebut menjelaskan bahwa dirinya telah mencoba hal baru dan berbeda namun tak kunjung pas dengan apa yang diharapkan


Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

Kata “Pramuniaga” dalam KBBI berarti karyawan perusahaan yang bertugas melayani konsumen;pelayan toko. Kata tersebut juga diartikan sebagai godaan bagi pelaku.
“merubung dan membujuk-bujuknya” diartikan sebagai hal yang menganggu. Bisa dibayangkan ketika hidup penuh bujukan maka rasanya tidak nyaman. Dalam puisi tersebut pelaku disuguhkan pada keinginan orang lain, bukan keinginan diri sendiri

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Pada bait puisi tersebut, pelaku sepertinya menunjukan ekspresi marah atau ketidaksukaan dengan bertanya “kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan”



Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

Kata “ngacir” dalam artian sederhana yaitu melarikan diri karena menghindari sesuatu.
“kubur Ibunya” menunjukan bahwa ibu dari pelaku dalam puisi telah meninggal, dan pelaku sebagai anak mencari kubur ibunya untuk menanyakan “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu”
“Celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu” menunjukan pelaku dalam puisi tersebut merindukan kenyamanan yang sesungguhnya, dan kenyamanan itu hanya Ibu yang memahami.

Dari penjelasan perbait dan menganalisis tanda yang terdapat dalam puisi “Celana” karya Joko Pinurbo tersebut saya sebagai pembaca menyimpulkan puisi tersebut mengandung pesan, bahwa sebenarnya isi lebih penting dari bagian luar (cover). Bagaimanapun kita mencari hal yang bagus, mewah, indah apabila kita tidak nyaman dengan hal itu semua, maka akan terasa menganggu. Hal itu menjadi sindiran, bahwa manusia sebenarnya butuh kenyamanan dari dalam, bukan tampilan luar. Kenyamanan itu tersirat dalam makna celana. Tidak penting seberapa bagus celana yang kita pakai, tidak penting dari mana asal tersebut, yang terpentinng bagaimana kita menemukan celana yang nyaman dengan kita






SEMIOTIKA
Ulfa Maulia Rahmawati
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
1788201017
e-mail:
ulfamaulia1111@gmail.com

ASAL SEMIOTIKA
            Semiotika merupakan ilmu tentang sistem tanda, seperti yang dikatakan Segers atau Cobley dan Jansz sebenarnya bukan bidang yang kemunculannya datang tiba-tiba melainkan sudah mmenjadi perdebatan antara penganut mahzab Stoik dan kaum Epikurean di Athena. Kira-kira isi perdebatan mereka berkaitan dengan perbedaan anatar “tanda  natural (alami)” dan tanda konvesional (dibuat khusu untuk  komunikasi).
SEMOTIKA DI INDONESIA?
Di Indonesia penggunaan semiotika sebagai bidang ilmu, pendekatan dan metodologi di kalangan akademisi atau pun mahasiswa Progam Studi Ilmu Komunikasi, dimulai awal sembilan puluhan oleh mahasiswa Fisip Komunikasi Universitas Indonesia. Mereka mendapatkannya dari keompok belajar yang mereka bentuk atau bisa dikatakan mereka mendapatkan semiotika secara otodidak.Akhir tahun 1992 Lingkaran Peminat Semiotika yang dibentuk di Jakarta telah menyelenggarakan pertemuan sekitar soal semiotika. Penerapan semiotika kini tak hanya digeluti oleh mahasiswa tak terkecuali dari studi ilmu komunikasi. Hingga sekarang semiotika mendapat perhatian yang begitu besar dan terus berkembang.
SEMIOTIKA?
Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda Semiotika dalam Barthes, semiologi, pada dasarnya mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things)1. Selain itu tanda merupakan sesuatu yang terdiri dari pada sesuatu yang lain atau menambah dimensi yang berbeda pada sesuatu, dengan memakai apa pun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu hal lainnya. Tanda-tanda memiliki valiensi ganda dan dapat menyesatkan atau menipu dalam tambahan pemberian kebenaran dari tanda-tanda tersebut. Hal ini menjadi kekuatan dan menjadikan tanda-tanda tersebut sebagai gejala yang kompleks serta harus dipertimbangkan.2
BAGAIMANA TANDA-TANDA BEKERJA?
Pendekatan Saussure
Pendekatan Pierce
Ø Tanda-tanda disusun oleh dua elamen yaitu aspek citra tentang bunyi (representasi visual) dan suatu konsep tempat citra bunyi itu disandarkan
Ø Hubungan antar penanda dan petanda bersifat arbither (bebas). Artinya keberadaan sesuatu atau sesuatu aturan tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan yang logis
Ø Prinsip kearbitreran bahasa tidak dapat diberlakukan secara sepenuhnya. Ada tanda-tanda yang bersifat arbither ada juga yang hanya relatif.
Ø     misalnya simbol keadilan yang berupa keadilan tidak dapat digantikan oleh kendaraan (kereta)

Ø  Tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaanya memiliki hubungan kausal dengan tanda-tanda tersebut.
Ø  Pierce menggunakan istilah ikon untuk kesamaanya, indeks untuk hubungan sebab akibat, dan simnbol untuk asosiasi konvesional.

Catatan:
Untuk memperjelas pendekatan yang dikemukakan oleh Pierce, berikut tabel ikon, indeks dan simbol
TANDA
IKON
INDEKS
SIMBOL
Ditandai dengan:


Contoh:



Proses
Persamaaan (kesamaan)

Gambar-gambar
Patung-patung tokoh besar Reagen

Dapat dilihat
Hubungan sebab akibat

Asap/api
Gejala/penyakit
(Bercak merah/campak)
Dpaat diperkirakan
Konvensi


Kata-kata Isyarat



Harus dipelajari
                                               
TOKOH SEMIOTIKA
Pragmastisme Charles Sanders Peirce
Perice merupakan seorang pemikir yang argumentatif, dibalik itu Pierce merupakan seorang yang sangat tempramental. Menurut Lechte (dalam Alex Sobur, 2010:40) Pierce terkenal karena teori tandanya.
Pierce mengadakan klasifikasi tanda dengan dikaitkan dengan ground menjadi 3 macam yaitu:
v  Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kasar, lemah, lembut dan merdu
v  Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda ; misalnya kata kabur dan keruh menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai
v  Legisign adalah norma yang dikandung dalam tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidsk boleh dilakukan
Teori Tanda Ferdinand de Saussure
Sasussure merupakan layak yang dikenal sebagai pendiri linguistik modern, dialah sarjana dan tokoh besar asal Swiss. Ada lima pandangan dari Saussure yang menjadi peletak dasari strukturalisme dari Levi-Strauss, yaitu (1) signifier (penanda) dan signfied (petanda);(2) form (bentuk) dan contenct (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan dan ajaran); (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik);serta (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik)

APLIKASI SEMIOTIKA KOMUNIKASI
Media
Media masa merupakan pencarian pesan dan makna . Mempelajari media adalah mempelajari makna dari mana asalnya
Komunikasi Periklanan
Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri dari lambang, baik dari verbal mapupun berupa ikon, Iklan juga merupakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televisi, dan film. Iklan juga terdiri dari iklan verbal dan non verbal
Film
Film sebagai media komunikasi massa yang kedua muncul di dunia. Dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat, hubungan antar film dan masyraakat selalu dipahami secara linier, artinya film mempengaruhi dan membenruuk masayrakata berdasarkan muatan pesan tanpa pernah berlaku sebaliknya. Film juga dibangun dengan tanda-tanda. Unsur terpenting dalam film adalah gambar dan suara.  Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digubakannya tanda-tanda ikonis
Komik-Kartun-Karikatur
Elemen pembentuk komik-kartun-karikatur yaitu terdri dari unsur-unsur berbagai disiplin misalnya bidang seni rupa, sastra, linguistik, dan sebagainya. Komik kartun penuh dengan perlambanga yang kaya akan makna. Sebagai kartun opini maka ada 4 hal teknis yang harus diingat yaitu: (informatif dan komunikatif, situasional dengan pengungkapan yang hangat, cukup memuat kandungan humor, serta komik harus memuat gambar yang baik)
Sastra
Karya sastra dengan keutuhannya secara semotik dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi. Pertama, karya sastra merupakan gelaja komunikasi yang berkaitan dengan pengarang, wujud dastra sebagai sistem tanda, pembaca. Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki strukur dalam tata tingkat tertentu. Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.
Musik
Denotatum musik merupakan tanggapan dan perasaan yang sangat kompleks dan sulit dilukiskan, namun Art van Zoest melihat ada 3 kemungkinan
·         Mengganggap unsur-unsur struktur musik sebagai ikonis bagi gejala neurofisiologis pendengar.
·         Mengganggap gejala-gejala struktural dalam musik debagai ikonis bagi gejala-gejala struktural dunia penghayatan yang dikenal
·         Mencari deotatum musik ke arah isi tanggapan dan perasaan yang dimuncukan musik lewat indeksial


BERKOMUNIKASI DENGAN SIMBOL
Secara etimologis simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu benda dikaitkan dengan ide. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta disebutkan simbol, atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu. Simbol juga menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Pada dasarnya simbol dapat dibedakan (Hartoko & Rahmanto, 1998:133)
1.      Simbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidue sebagai lambang kematian
2.      Simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu(misalnya keris dalam kebudayaan Jawa)
3.      Simbol individual yang biasanya d ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang

ASPEK-ASPEK VISUAL TANDA-TANDA
Penggunaan Warna
Perbedaan warna cenderung menimbulkan emosi.
Merah: nafsu, bahaya, panas, emosi
Biru: tenang, damai, halus
Violet: kejayaan dan kerajaan
Hitam: berduka cita
Ukuran
Tanda-tanda memiliki variasi ukuran, mulai dari ukran terkecil hingga terbesar. Perubahan skala ukuran lebih menekankan nilai keindahan daripada fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Ruang Lingkup
Hubungan antar unsur dalam sistem tanda yakni semacam periklanan. Berbagai tanda memiliki tampilan yang relatif sedikit dan ruang kontras dengan “ruang kosong”. Ruang kosong itu sendiri mencerminkan tentang keanggunan kualitas dan selera tinggi
Kontras
Kontras merupakan perbedaan antara elemen-elemen yang ada dalam suatu tanda, seperti warna, ukuran,ketajaman dan tekstur. Kegunaan kontras terdapat jelas dalam tanda lampu lalu lintas
Bentuk
Bentuk berperan penting untuk memunculkan arti di dalam iklan. Banyak dijumpai bentuk jantung pada Hari Valentine adalah simbol dan bukan ikon.
Detail
Detail juga merupakan suatu tanda dari sejumlah manfaat. Detail menyarakan kesepakatan ihwal letidaksempurnaan atau kecepatan


DAFTAR PUSTAKA
1.        Sobur, A. Semiotika Komunikasi. (2013).
2.        Berger, A. A. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. (2010).



















Celana 1
Joko Pinurbo
Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”
(1996)




Kajian Puisi Celana 1 Joko Pinurbo Menggunakan Teori Semiotika
Puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Celana 1” merupakan puisi dengan rangkaian kata sederhana namun penuh makna. Apabila membaca puisi tersebut, tampak kita seperti membaca cerita. Dari pelaku yang ada dalam cerita ingin membeli celana baru hingga pelaku tersebut mencari kuburan ibunya. Unikya dilansir dari www.whiteboardjournal.com Jopin mengemukakan bahawa puisi “Celana” sebetulnya terinspirasi dari alkitab, dari surat Paulus yang pada ayat tertentu megatakan, “lebuh penting mana tubuh atau pakaian”. Hal ini masih terasa ambigu untuk diterjemahkan oleh pembaca. Berikut penjelasannya:

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Diawali dengan kata “Ia” yang menunjukan bahwa pelaku dalam puisi tersebut ialah sosok lelaki. Dikuatkan penanda pada  bait ketiga yaitu tampan.
Kata “celana” pada bait pertama juga menarik, karena celana berhubungan dengan benda yang sering dipakai oleh manusia dan digunakan untuk menutupi aurat
Kata “pesta” menujukan pada kegiatan bersenang-senang, dan lebih mengutamakan urusan dunia


Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Pelaku dalam puisi tersebut menjelaskan bahwa dirinya telah mencoba hal baru dan berbeda namun tak kunjung pas dengan apa yang diharapkan


Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

Kata “Pramuniaga” dalam KBBI berarti karyawan perusahaan yang bertugas melayani konsumen;pelayan toko. Kata tersebut juga diartikan sebagai godaan bagi pelaku.
“merubung dan membujuk-bujuknya” diartikan sebagai hal yang menganggu. Bisa dibayangkan ketika hidup penuh bujukan maka rasanya tidak nyaman. Dalam puisi tersebut pelaku disuguhkan pada keinginan orang lain, bukan keinginan diri sendiri

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Pada bait puisi tersebut, pelaku sepertinya menunjukan ekspresi marah atau ketidaksukaan dengan bertanya “kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan”



Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

Kata “ngacir” dalam artian sederhana yaitu melarikan diri karena menghindari sesuatu.
“kubur Ibunya” menunjukan bahwa ibu dari pelaku dalam puisi telah meninggal, dan pelaku sebagai anak mencari kubur ibunya untuk menanyakan “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu”
“Celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu” menunjukan pelaku dalam puisi tersebut merindukan kenyamanan yang sesungguhnya, dan kenyamanan itu hanya Ibu yang memahami.

Dari penjelasan perbait dan menganalisis tanda yang terdapat dalam puisi “Celana” karya Joko Pinurbo tersebut saya sebagai pembaca menyimpulkan puisi tersebut mengandung pesan, bahwa sebenarnya isi lebih penting dari bagian luar (cover). Bagaimanapun kita mencari hal yang bagus, mewah, indah apabila kita tidak nyaman dengan hal itu semua, maka akan terasa menganggu. Hal itu menjadi sindiran, bahwa manusia sebenarnya butuh kenyamanan dari dalam, bukan tampilan luar. Kenyamanan itu tersirat dalam makna celana. Tidak penting seberapa bagus celana yang kita pakai, tidak penting dari mana asal tersebut, yang terpentinng bagaimana kita menemukan celana yang nyaman dengan kita







0 komentar:

Posting Komentar